PRESS Release JPPR
| Pengumuman DPT di TPSFriday, 17 July 2009 | Ramdan WibisanaHASIL PANTAUAN PENGUMUMAN DPT DI TPS Pemilu telah hampir usai dilaksanakan, Dan masih menyisakan beberapa tahapan selanjutanya. Proses pemungutan dan penghitungan di tingkat TPS telah selesai... Read More... |
Artikel
| ANATOMI KEKISRUHAN DPTThursday, 16 April 2009 | Ramdan Wibisana Oleh Irvan Mawardi* Mungkinkah ada pemilu ulang? Tiba-tiba pertanyaan ini menyeruak akhir-akhir ini di tengah publik seiring dengan semakin banyaknya muncul penyimpangan dan kecurangan dalam... Read More... |
Komentar Terbaru
| Partai Demokrasi Indonesia... |
|
daftar gmn nih say mau daftar jadi kader pdip |
| 04/03/10 22:10 More... |
| By riski |
| Warga Jakarta Mencontreng,... |
javascript:mxc_smilie(' ')
ya...
|
| 29/01/10 19:52 More... |
| By ivon |
| Pemilihan Gubernur tidak... |
|
Pilgub tak langsung; keputusasaan! Sebaiknya Pemilukada tak langsung jgn... |
| 18/01/10 09:03 More... |
| By Bosman Sultra |
| Sebutan Calon Independen... |
|
makash terima kasih atas informasinya
|
| 14/01/10 13:42 More... |
| By bayu ardiansyah |
| Depdagri-DPR Bahas Jadwal... |
|
jadwal pilkada Bisa minta bantuan jadwal pilkada... |
| 01/01/10 22:10 More... |
| By Budi HS |
Main Menu
| Beranda |
| Tentang JPPR |
| Artikel |
| Berita |
| Press Release |
| Download |
| Mengawal Demokrasi Nepal |
|
|
|
Oleh : Masykurudin Hafidz
Relawan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR)
Nepal mengadakan pesta demokrasi November nanti. Negara dengan pelataran gunung Hilamaya ini sepakat untuk membentuk majelis konstituante yang bertugas memutuskan masa depan warga yang mayoritas memeluk agama Hindu tersebut. Dunia akan menunggu, apakah majelis ini akan mempertahankan bentuk negara monarkhi yang sudah berlangsung lebih dari dua abad atau menggantinya dengan sistem republik.
Sejarah politik Nepal memang tak sedingin cuaca alamnya. Kesepakatan untuk merundingkan kekuasaan ini didapat setelah melalui pemberontakan dan gelombang protes dengan korban luar biasa banyak dan (sebenarnya) tidak perlu. Awalnya adalah keputusan Raja Gyanendra yang mengambil alih pemerintahan dan memecat sang perdana menteri, Sir Bahadur Deuba. Alasannya, ia tidak mampu menumpas para pemberontak negeri. Menurut Deuba sendiri, pemecatannya lebih didasarkan pada keinginan Gyanendra untuk tetap mempertahankan sekaligus memperluas kekuasaan politik Nepal.
Silang pendapat inilah yang kemudian memicu kecaman publik dan meluas menjadi gerakan demonstrasi. Gerakan ini makin besar setelah Kelompok Maois yang sejak awal menjadi musuh pemerintah (baca; pemberontak) bergabung dengan tujuh partai oposisi dalam menggalang dukungan untuk memprotes kebijakan Gyanendra. Puncaknya adalah sepanjang bulan April 2006 lalu. Para demonstran terus menerus melakukan tekanan dengan melakukan aksi mogok nasional. Gerakan ini membuat pemerintah melakukan jam malam serta tidak segan-segan memukul dan menembak siapa saja yang melanggar larangan keluar rumah. Korbanpun tak terelakkan, setidaknya empat puluh tiga orang meregang nyawa.
Konflik berkepanjangan ini akhirnya menyadarkan Raja Gyanendra. Untuk menghindari kekacauan yang lebih parah, ia tampil di televisi mengumumkan bahwa sudah saatnya kekuasaan dikembalikan ke rakyat Nepal. Pernyataan Raja Gyanendra ini ternyata tidak menurunkan gelombang demonstrasi karena dinilai tidak mengabulkan permintaan dari para demonstran itu sendiri.
Singkat cerita, setelah mengalami banyak negosiasi, akhirnya pihak pemberontak dan pemerintah sepakat untuk membentuk majelis konstituante melalui pemilihan 22 november nanti. Pemilihan ini tentu sangat krusial dalam proses demokratisasi Nepal sekaligus situasinya terutama menyangkut hubungan pemerintah dengan kelompok Maois.
Tidak mengherankan jika Maois menjadi sangat diperhitungkan oleh pemerintah. Kelompok yang beraliran Komunis ini mempunyai banyak dukungan di pedalaman Nepal sehingga mereka dengan mudah mengerahkan kekuatan untuk turun ke jalan memprotes kebijakan pemerintah. Militansi kelompok Maois tak perlu diragukan. Bahkan mereka mempunyai ribuan anggota dan petempur yang siap mati dalam memperjuangkan ideologinya. Selama sepuluh tahun terakhir, setidaknya terdapat 13.000 nyawa yang menjadi korban dari aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang berbendara palu arit ini. Pemilihan Nepal sendiri akan diikuti sedikitnya 62 partai yang memperebutkan sekitar 17, 5 juta suara. Jumlah yang disediakan dari pemilihan ini sebanyak 241 kursi yang dibagi dalam dua wilayah.
Salah satu lembaga yang berjuang mengawal demokrasi di Nepal adalah Asia Network for Free Election (ANFREL). Lembaga yang bermarkas di Thailand ini merencanakan untuk mengirim lebih dari 100 relawan dari berbagai negara di Asia yang akan memantau di setiap daerah di Nepal. Pemantauan ini tidak lain dimaksudkan untuk mendukung proses pemilihan yang kredibel dan transparan.
Atas undangan ANFREL, JPPR mendapatkan kesempatan untuk berperan dalam mensuksesan pelaksanaan proses pemilihan di Nepal nanti. Layaknya lembaga pemantau, JPPR tentu akan serius mengawal demokrasi disana. JPPR dipilih untuk ikut serta karena selama ini JPPR telah berusaha mewujudkan masyarakat yang sadar, berpengetahuan dan partisipatif dalam membangun kedaulatan rakyat di Indonesia. Kita patut berbangga, sekaligus bertanggung jawab atas undangan itu
Sumber: milis Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Users' Comments (1) |
|
|
17-11-2007 20:05, IP 124.120.179.241, Guest hhmmmmm, aku pikir isinya apa di dalam waktu aku baca icon mengawal demokrasi Nepal, ternyata tulisan kamu yah. oke teruskan untuk menulis....semoga menjadi penulis handal Indonesia. best regard » Reply to this comment... |
||
|
mXcomment 1.0.4 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

javascript:mxc_smilie('
')
ya...




(0 vote)
Views: 3925